IMCoMBio 2015

Materials and bioprocess are the two most rapid growing research fields recently. By the advancement of technology, Japan is one of the leaders in the fields, on the other hand Indonesia has a lot of natural resources to be studied through these fields. In this mini-conference we want to combine together the fields in order to provide a broader perspective and potential future research collaboration between the countries.

Keynote:

Prof. Hirofumi HINODE (TITech Japan)

Prof. Kiyohiko NAKASAKI (TITech Japan)

Venue : Chemical Engineering Dept. UGM Yogyakarta

Date : Tuesday, 3 March 2015 (09.00 – 14.00)

Contact : chandra.purnomo@ugm.ac.id

Phone : 0274-6492171

Contribution:
– Presenter 200,000 IDR

– Participant 100,000 IDR

(Certificate, Proceedings and Lunch)

REGISTRATION DEADLINE : 28 February 2015

TEMPLATE ABSTRACT : IMCoMBio2015-abstract-template

FEGISTRATION FORM : IMCoMBio2015-registration form

Februari 11, 2015 at 7:53 pm Tinggalkan komentar

Zeolit-karbon aktif komposit

Biasanya zeolit dan karbon aktif merupakan dua jenis zat yang saling terpisah. Namun sebenarnya kedua jenis material tersebut dapat digabungkan menjadi semacam komposit. Tentunya diharapkan komposit dari karbon aktif dan zeolit akan bisa mewarisi semua kelebihan dari masing-masing unsur pembentuknya. Rata-rata cara pembuatan yang sudah banyak dikembangkan adalah menumbuhkan zeolit pada permukaan karbon. Biasanya pula prekursor yang dipakai adalah bahan yang mengandung partikel karbon sekaligus mengandung silika yang dengan mudah diekstrak dengan larutan alkali (NaOH). Setelah proses pengekstrakan silika maka dengan penambahan unsur alumina dan perlakuan tertentu (hydrothermal treatment) maka silika dalam cairan akan membentuk kristal zeolit pada permukaan karbon seperti dalam gambar SEM dibawah ini (hitam adalah karbon dan putih adalah zeolit). Perbandingan silka dan alumina serta kondisi operasi bisa diubah-ubah sehingga berbagai jenis zeolit bisa disintesa seperti zeolit NaX, NaA, NaP1, sodalite dan sebagainya.

Komposit seperti contoh dalam gambar SEM diatas bisa dikategorikan sebagai zeolit yang diembankan kepada karbon. Namun sebaliknya bisa juga zeolit yang dipakai sebagai support. Dalam hal ini biasanya komposit dibuat dengan cara impregnasi padatan zeolit dengan prekursor karbon seperti surfaktan. Kemudian dengan proses kalsinasi yang terkontrol maka surfaktan yang menempel akan menjadi deposit karbon dipermukaan zeolit.

Pada perkembangan riset dewasa ini beberapa komposit lain juga sedang giat diteliti misalkan komposit dari karbon dan titanium oksida. Pengembangan komposit tersebut biasanya bertujuan untuk menggabungkan kemampuan fotokatalisis dari titania dan kekuatan penjerapan dari karbon aktif.

April 5, 2011 at 8:40 am 6 komentar

Berbahayakah Nanomaterial?

Nanomaterial memiliki karakteristik yang super dibanding dengan material dengan ukuran normal seperti dijelaskan dalam artikel karakteristik nanomaterial. Sampai sekarang ada sekitar 600 produk dipasarkan telah mengandung bahan nanomaterial. Mudah kita temui pada produk – produk alat olahraga seperti raket, stik golf misalnya mencantumkan kata ‘nano” yang mengindikasikan bahan tersebut dibuat dari komposit yang mengandung partikel berukuran nano. Biasanya kandungan nanopartikel digunakan untuk menimbulkan sifat ringan tapi kuat pada produk jadi atau memiliki fungsi ganda seperti saringan udara pada alat AC sekarang ada yang dilengkapi kandungan partikel logam perak berukuran nano untuk memberikan kemampuan membunuh bakteri disamping menyaring debu. Sifat yang super, seperti lebih reaktif, lebih kuat dan sebagainya tentunya disisi lain dapat mengandung bahaya yang lebih besar. Kemungkinan bahaya yang bisa ditimbulkan dari nanomaterial diringkas dalam beberapa poin karakteristk nanomaterial dibawah ini.

Bioavailability, didefinisikan sebagai kemampuan bahan untuk menembus membran/lapisan jaringan tubuh melalui berbagai cara paparan (kulit, pernafasan, dan pencernaan). Nanomaterial dimungkinkan untuk masuk menembus jaringan karena ukurannya yang lebih kecil dari ukuran pori-pori kulit manusia, namun itu semua juga tergantung dari sifat – sifat materialnya seperti kemampuan penggumpalan, muatan listrik, bentuk partikel, gugus fungsi dan sebagainya. Meski partikel berukuran sangat kecil, namun gugus fungsi tertentu yang diembankan kedalamnya bisa menghalangi proses absorpsi oleh jaringan.

Bioaccumulation, didefinisikan sebagai kemampuan partikel yang terabsorpsi untuk terakumulasi didalam jaringan tubuh organisme dengan berbagai jalur paparan. Akumulasi ini perlu didalami lebih lanjut mengenai letaknya didalam jaringan apakah dia terakumulasi dilokasi dekat dengan inti sel sehingga bisa mempengaruhi proses replikasi DNA ataukah dia terakumulasi di tempat yang tidak membahayakan jaringan hidup.

Toxic Potential, efek dari toksisitas nanomaterial dimungkinkan melalui berbagai sebab yaitu kemampuan oksidasi, inflamasi dari iritasi fisis, pelepasan dari radikal yang terkandung dan dari pengotor (impurities) dari pembuatan nanomaterial misalkan sisa katalis, pengotor bahan baku yang kurang murni. Namun semua nilai toksisitas ini juga sangat tergantung dari dosis dan waktu paparan terhadap bahan. Gambar dibawah ini menampilkan karbon nanotube yang masuk kedalam sel.

cellnano
sumber:physorg.com

Beberapa institusi sekarang baru giat meneliti lebih mendalam mengenai potensi bahaya dari bahan nanomaterial dengan dana yang sangat besar. Namun bahaya tersebut bisa diminimalkan jika kita tau mengenai potensi resikonya dan paham bagaimana cara menanganinya. Beberaoa penelitian juga telah membuktikan jika beberaoa produk nanomaterial tidak berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Pada prinsipnya resiko tidak perlu sampai menghalangi suatu teknologi untuk berkembang dan digunakan untuk kesejahteraan manusia, karena segala sesuatunya ada didunia ini pasti mengandung resiko seperti yang terkandung pada bahan – bahan kimia yang lain.

sumber: J Nanopart Res (2009) 11:757-766

September 5, 2009 at 8:46 pm 1 komentar

Bisakah lumpur Lapindo dijadikan material cerdas?

Lumpur Lapindo sampai sekarang masih cukup sulit ditangani. Namun ketika nanti bisa dihentikan semburannya atau berhenti dengan sendirinya, maka akan menimbulkan pertanyaan besar yaitu akan diapakan gunung lumpur sebanyak itu? Kalau ditunggu sehingga memadat dan bisa dijadikan areal pemukiman atau lahan tentunya membutuhkan waktu lama. Padahal lokasi disana merupakan kawasan yang cukup berkembang dan sebagian merupakan area industri. Di negara maju telah diteliti pemanfaatan lumpur alam untuk membuat zeolit sintetik. Lumpur ini biasanya mereka dapatkan dari pengerukan danau dan sungai yang mengalami pendangkalan. Hal ini memungkinkan karena dalam lumpur tersebut terkandung senyawa silika dan alumina yang merupakan komponen utama penyusun zeolit.
lapindo

Cara mengubah lumpur endapan menjadi zeolit yang dapat dimanfaatkan sebagai penjerap, katalis dan filter ini cukup sederhana. Langkah – langkah utamanya adalah lumpur dikeringkan kemudian digiling hingga halus. Kemudian hasil gilingan diayak untuk mendapatkan fraksi ukuran yang sesuai. Kemudian hasil ayakan dicampur dengan larutan basa pekat biasanya dipakai NaOH, kemudian dipanaskan dalam kontainer tertutup pada suhu sekitar 100 C selama 24 jam. Setelah itu disaring dan dicuci kemudian dikeringkan maka akan didapatkan zeolit buatan.

Zeolit yang didapatkan biasanya memiliki struktur kristal campuran. Hal ini bisa dianalisa menggunakan alat XRD. Dengan mengubah – ubah kondisi operasi diatas maka kita dapat mengatur zeolit hasil memiliki struktur kristal tertentu. Salah satu karakter yang cukup penting lainnya adalah luas permukaan dari zeolit yang didapat yang bisa diukur dengan alat Surface Area analyzer. Kemudian kapasitas pertukaran kation (CEC) juga penting untuk mengetahui seberapa kemampuan zeolit yang didapatkan sebagai material penukar ion.

Pembuatan zeolit sintetik ini secara ekonomis mungkin sekarang ini tidak bisa bersaing dengan zeolit alam yang mudah didapatkan. Namun perlu diingat jika zeolit alam merupakan bahan tambang yang suatu ketika bisa habis. Saat ini pemanfaatan zeolit merambah ke berbagai hal seperti campuran makanan hewan, dasar aquarium, media tanam bahkan sebagai campuran pupuk agar zat aktif dalam pupuk bisa dikeluarkan secara tepat dan perlahan – lahan. Sehingga bisa jadi zeolit sintetik ini apalagi jika kita bisa memodifikasinya sehingga memiliki sifat yang unggul atau cerdas tentunya kedepan akan bisa bersaing dengan produk alam.

Cha

Juli 24, 2009 at 5:25 am 3 komentar

Definisi

Material disini secara khusus difokuskan kepada material padat yang memiliki karakteristik dan fungsionalitas yang unik. Karakteristik tersebut dapat dikandung dalam material secara alami ataupun setelah diberikan perlakuan khusus.

Indonesia sangat kaya akan bahan – bahan alami yang dapat dipakai sebagai prekursor material canggih misalkan berbagai jenis biomasa sebagai bahan karbon aktif. Bahan galian seperti zeolit, atau limbah seperti abu dan bahkan lumpur aktif juga bisa ditingkatkan kualitasnya menjadi material cerdas. Situs ini diharapkan dapat memberikan informasi dan dasar pengetahuan bagi siapa saja yang tertarik mengembangkan material cerdas yang berbasiskan pada potensi lokal Indonesia.

April 5, 2009 at 9:20 pm Tinggalkan komentar

Material Cerdas Indonesia

Situs ini berisi dasar teori, pemahaman alat analisa, serta perkembangan riset mengenai material cerdas khususnya yang memiliki aplikasi dibidang kimia atau teknik kimia. Contoh dari aplikasinya adalah sebagai adsorbent, katalis dan membran atau saringan molekuler.

April 5, 2009 at 12:18 pm Tinggalkan komentar


Feeds

Pengunjung

  • 189,142
Desember 2016
S S R K J S M
« Feb    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031